Oleh: Falisya Salwa Sabrina

Budaya merupakan keunikan atau ciri khas suatu daerah yang sudah mendarah daging pada masyarakatnya dan menjadi kebiasaan secara turun temurun. Merurut Lebra (1976) kebudayaan adalah serangkaian simbol-simbol abstrak, umum, atau ideasional. Indonesia merupakan negara dengan budaya tradisional yang tersebar di penjuru daerah. Hal ini disebabkan karena letak Indonesia sangat strategis dan dahulunya menjadi jalur perdagangan internasional. Budaya yang beragam tersebut tentu memiliki ancaman bagi Indonesia sendiri, hal tersebut disebabkan teknologi yang semakin canggih dan akan membawa arus budaya tidak pada tempatnya (Dwihantoro, 2023). Tidak sedikit di luar sana beberapa negara yang mencoba mengambil alih budaya Indonesia dan mengatas-namakan negaranya.
Dalam mendidik generasi muda perlu ditekankan sikap cinta tanah air dan agar terbentuk nilai budi pekerti luhur dan rasa nasionalisme di setiap diri mereka (Koentjaraningrat, 2015). Jika lemahnya nasionalisme dalam diri generasi muda saat ini dapat menimbulkan dampak negatif dalam berperilaku. Kaum milenial kerap terpapar oleh budaya asing yang masuk dengan mudah ke Indonesia. Hal ini dapat mengikis rasa nasionalisme serta memudarkan identitas budaya asli Indonesia (Fathoni, 2024).
Era digital saat ini sangat mempengaruhi gaya hidup dan masa depan bangsa karena membentuk digital citizen yang tak luput dari sisi negatif. Sisi negatif digitalisasi mengakibatkan kurangnya interaksi antara individu satu dengan individu yang lain, mereka hanya fokus dengan gadget dan mulai lengah dengan budaya lokal. Dari sini, kita harus dapat bersikap bijak dalam memanfaatkan gadget tanpa merusak nilai-nilai moral dan cinta tanah air. Bagaimana caranya?
Mendorong rasa cinta budaya dan tanah air di era digitalisasi dapat menggunakan beberapa cara, seperti memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi budaya lokal serta membuat konten yang berbasis keanekaragaman budaya dan cinta tanah air.
Perlu ditekankan bahwa budaya dan sikap cinta tanah air tidak hanya sebatas teori. Kita tidak bisa membiarkan era digital menepis nilai-nilai budaya dan sikap cinta tanah air sehingga dapat menimbulkan celah budaya negara lain menjajah budaya bangsa kita. Melalui media sosial yang berkembang pesat, seluruh informasi dari luar bisa mudah masuk ke dalam budaya kita tanpa ada filterisasi terhadap budaya-budaya tersebut. Problematika ini dapat diselesaikan jika setiap individu memiliki kesadaran akan pengaruh penyalahgunaan sosial media dalam lingkup bersosial terhadap budaya dan keanekaragaman yang ada.
Untuk mendorong rasa cinta terhadap budaya dan tanah air di era digital saat ini bisa dengan cara memanfaatkan perkembangan digital, di antaranya:
- Membuat konten edukatif
Misalnya dengan membuat konten yang berisikan tentang pengenalan budaya lokal ataupun nilai-nilai kebangsaan. Dengan begitu, maka kita bisa memanfaatkan media sosial yang ada tanpa mengurangi unsur kebudayaan dan cinta tanah air.
- Gamifikasi
Kita bisa membuat sebuah game edukasi yang memuat keanekaragaman budaya. Dengan cara ini, generasi muda tidak akan lupa dengan budayanya dan dapat mendorong rasa cinta tanah air dengan game yang asyik dan digandrungi oleh banyak generasi muda.
- Kolaborasi dengan influencer
Menggandeng influencer yang memiliki banyak pengikut di media sosial bisa memudahkan kita dalam mempromosikan konten yang kita gunakan sebagai pengenalan budaya lokal.
- Penggunaan AR/VR
Teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Kita dapat mengetahui keanekaragaman budaya dan banyak hal lain di sekitar kita.
Dengan semua hal di atas, kita dapat mendorong rasa cinta kita terhadap budaya dan rasa cinta tanah air, nasionalisme, dan patriotisme di tengah era digital. Rasa cinta tanah air harus ditanamkan sejak dini. Sebagai generasi muda bangsa, kita bisa menjadi kreatif untuk memperkuat dominasi budaya lokal dengan memanfaatkan kemajuan teknologi di era digital.
Dalam mendidik seorang anak di tengah perkembangan teknologi, kita harus menyisipkan materi berbasis nilai-nilai nasionalisme, patriotisme, kebudayan lokal, dan kekayaan alam sehingga dapat mencetak karakter generasi yang hebat dan berwawasan luas. Dengan mengikis faktor-faktor yang menyebabkan pudarnya nilai nasionalisme dan rasa cinta terhadap tanah air, maka generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh budaya-budaya asing dan dapat menerapkan sistem filterisasi budaya agar pilar-pilar budaya tidak runtuh. Termasuk kebiasaan anak muda yang ketagihan gadget. Penggunaan internet berlebihan membuat anak tidak dapat membedakan stimulasi dunia maya dan realitas yang sering kali tidak sama. Penggunaan internet jangka panjang justru berisiko dapat menyebabkan rasa kesepian dan depresi (Rahmat, 2018).
Semua langkah ini perlu dilakukan untuk membangun kembali rasa kecintaan terhadap budaya dan rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda sehingga mereka dapat menghadapi era digital dan perkembangan teknologi. Menunjang jiwa patriotisme dalam mengeksplorasi karya anak bangsa merupakan bentuk dari kecintaan terhadap budaya di tengah perkembangan teknologi dunia. Dengan upaya mendidik karakter generasi muda, maka negara ini akan mencetak generasi yang memiliki jiwa nasionalisme dan membangun rasa cinta terhadap kearifan lokal, budaya, dan tanah air.
*) Penulis adalah Siswi Kelas XII-2 asal Driyorejo, Gresik
Daftar Rujukan:
Anton, dkk. 2024. Aksi Generasi Digital yang Berkarakter dan Toleran. Jurnal Intelek dan Cendikiawan Nusantara Vol. 1 No. 2.
Fathoni, Faiz dkk. 2024. Pendidikan Cinta Tanah Air dalam Pembentukan Karakter Kaum Milenial. Kontruksi Sosial: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial Vol. 4 No. 3
Koendjaraningrat. 2015. Pengantar Ilmu Antropologi, Sejarah Teori Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta
Lebra, T.S. 1976. Japanese Patterns of Behavior. Honolulu: University of Hawaii Press
Dwihantoro, Prihatin dkk. 2023. Digitalisasi Kesenian Njanen: Strategi Pelestarian Kebudayaan Melalui Platform Sosial Media. Madaniya Vol. 4 No. 1
Rahmat, Stephanus Turibius. 2018. Pola Asuh yang Efektif untuk Mendidik Anak di Era Digital. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 10 No. 2
Saputri, Shalaisa & Dewi, Dinie Anggraini. 2022. Tantangan Nilai-Nilai Pancasila pada Generasi Milenium di Era Digital. Jurnal Pendidikan Tambusai Volume 6 Nomor 2.
Simangunsong, Anita Debora & Yanti, Febri. 2022. Pembelajran Berbasis Digital Melalui Konten Youtube. Jakarta: Perkumpulan Rumah Cemerlang Indonesia